Welcome to "Reduce Junk Food" Campaign..

We invite you all to visit this blog and get so many information about junk food, so that we together can reduce it..
"Less is healthier"
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2011

Cegah Obesitas Anak dengan Memasak Bersama

Sebentar lagi moment liburan tiba. Cobalah mengisi waktu yang ada dengan kegiatan memasak bersama. Selain  menyenangkan, berdasarkan sebuah penelitian, melakukan kegiatan memasak bersama keluarga juga bisa menjadi aktivitas yang menyehatkan.Seperti dilansir dari Times of India, penelitian yang dilakukan American Heart Association mengungkap bahwa masalah kelebihan berat badan pada anak-anak bahkan bisa ditangani dengan melibatkan anak-anak dalam perencanaan menu, belanja, dan memasak.

Di jaman yang moderen ini sulit bagi orangtua dengan jadwal yang sibuk, menerapkan pola makan sehat. Akibatnya banyak keluarga terbiasa dengan makanan Junk Food. Momen liburan adalah waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas sehat dengan memasak makanan sehat bersama.

Selain itu, memasak akan membuka jalur komunikasi antara anak dan orangtua. Anak-anak bisa cenderung menghindari junk food dan obesitas ketika mereka senang memasak dan makan di rumah dengan orang tua mereka. Beberapa studi telah membuktikan bahwa memasak bersama-sama membantu membangun ikatan antara orangtua dan anak-anak.
Dalam jangka panjang, memasak membuat anak lebih mudah dalam menerapkan kebiasaan makan yang sehat. Itu karena, anak-anak yang makan makanan sehat di usia muda, cenderung akan terus mengonsumsi makanan sehat di masa dewasanya.

Sabtu, 11 Juni 2011

Dampak obesitas pada anak

Obesitas atau kegemukan diartikan sebagai penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Obesitas mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang anak dan berpotensi mengalami berbagai penyakit dan kematian antara lain penyakit kardiovaskuler, dilipidemia, hipertensi, DM dsb.

Selanjutnya, ada bukti tentang kecenderungan obesitas anak yang melanjut sampai dewasa dengan segala komplikasinya. Kontribusi faktor genetik dan lingkungan juga berperan besar dalam pembentukan sel lemak Obesitas juga terkait dengan pemberian makanan padat bayi secara dini. Sedihnya, banyak orang tua masih memberi pola makan tidak sehat dengan Junk Food.
 
Dampak obesitas pada anak dapat terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang, misalnya:
  1. gangguan psikososial, rasa rendah diri, depresif dan menarik diri dari lingkungan. Hal ini karena anak obese sering menjadi bahan olok-olokan teman main dan teman sekolah. Dapat pula karena ketidakmampuan untuk melaksanakan suatu tugas/kegiatan terutama olahraga akibat adanya hambatan pergerakan oleh kegemukannya.
  2. pertumbuhan fisik/linier yang lebih cepat dan usia tulang yang lebih lanjut dibanding usia biologinya.
  3. masalah ortopedi akibat beban tubuh yang terlalu berat: slipped capital femoral epiphysis.
  4. gangguan pernapasan: infeksi saluran napas, tidur ngorok, sering mengantuk siang hari.
  5. gangguan endokrin: menars lebih cepat terjadi.
 Tidak mau kan anak anda terkena obesitas? Reduce Junk Food starts from now .. cause Less is healthier :)

Jumat, 10 Juni 2011

WHO Larang Junk Food Masuk Sekolah

Dampak Junk Food pada anak
         Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah membuat larangan untuk tidak menjual dan tidak memasang iklan makanan cepat saji yang termasuk dalam junk food di area sekolah dan taman bermain. Hal ini bertujuan untuk mempromosikan diet sehat dan mencegah obesitas pada anak. "Peraturan ini untuk menjauhkan anak-anak dari segala bentuk pemasaran makanan tinggi lemak jenuh, asam trans-lemak, gula atau garam," jelas badan kesehatan PBB.
       WHO menjelaskan, peraturan tersebut meliputi tempat menyusui, taman bermain, sekolah, halaman sekolah, pusat pra-sekolah, klinik keluarga, juga tempat pelayanan olahraga dan budaya. Menurut WHO, ada sekitar 43 juta anak pra-sekolah yang mengalami obesitas (kegemukan) atau kelebihan berat badan. "Anak-anak di seluruh dunia yang terkena pemasaran makanan tinggi lemak, gula atau garam, dapat meningkatkan potensi generasi muda mengembangkan penyakit menular selama hidup mereka," katanya. WHO juga memperingatkan, 6 dari 10 kematian setiap tahun diakibatkan oleh penyakit jantung, kanker, diabetes dan penyakit paru-paru kronis. Faktor umum dari empat penyakit utama tersebut adalah pola makan yang buruk.

Referensi:
http://health.detik.com/read/2011/01/24/102316/1552894/763/who-junk-food-tak-boleh-dijual-di-sekolah

Kamis, 09 Juni 2011

McDonald diminta hentikan promosi Happy Meals kepada anak

Ratusan organisasi kesehatan dan para profesional yang tergabung dalam American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menandatangani surat yang ditujukan kepada McDonald's Corp, perusahaan makanan cepat saji ini untuk menghentikan promosi makanan produksinya kepada anak-anak.

Seperti diketahui, selama ini McDonald's merangkul pasar di kalangan anak-anak dengan menawarkan program Happy Meals dan karakter badut Ronald McDonalds untuk memasarkan produk makanan Junk Food.

Surat permintaan yang diorganisir oleh kelompok pengawas Akuntabilitas Perusahaan Internasional ini kan diiklankan satu halaman penuh di enam surat kabar antara lain: Boston, Chicago, New York, San Francisco, Minneapolis dan Baltimore.

Isi surat itu meminta agar McDonald's menghentikan promosi makanan Junk Food, yang mengandung lemak, garam, kalori serta gula yang tinggi sehingga dapat membahayakan kesehatan anak-anak

Referensi:
http://internasional.kontan.co.id/v2/read/internasional/67767/Dianggap-mengancam-kesehatan-McDonalds-diminta-hentikan-promosi-ke-anak-anak

Senin, 06 Juni 2011

Menyulap Sekolah Jadi Kebun Sayur

Halaman sekolah-sekolah dasar di Manila, Filipina, diubah menjadi kebun sayur, sebagai perlawanan terhadap budaya makan junk food yang datang dari Amerika Serikat. Anak-anak SD diajari cara menanam dan merawat serta dibiasakan menyantap berbagai sayuran khas, seperti terung, daun kelor, okra, dan beligo.

Berbagai masakan tradisional Filipina yang menggunakan sayur-sayuran ini makin jarang disajikan di rumah-rumah karena kalah populer dengan makanan cepat saji. Survei Gizi Nasional tahun 2009 menunjukkan, 27 persen penduduk dewasa di Filipina kelebihan berat badan dan 25 persen menderita hipertensi akibat kebiasaan menyantap makanan cepat saji yang mengandung garam dan lemak tinggi.

Ahli gizi Dulce Aranda mengatakan, program memakan sayuran itu mulai memperlihatkan dampak positif bagi anak sekolah. ”Data menunjukkan, mereka jadi lebih sehat, lebih menyimak di kelas, dan berprestasi lebih baik,” kata Aranda.

Semoga Indonesia bisa meniru langkah mereka... Reduce Junk Food, 'cause less is Healthier :)

Referensi:
http://nasional.kompas.com/read/2011/01/17/08592223/